1 November 2013

Profil Socrates- Plato- Aristoteles (Bapa Filsafat)



PENDAHULUAN
Keunikan manusia sebagai pribadi yang diciptakan dengan konsep segambar dan serupa dengan Allah atau Imagodei berbeda dengan model ciptaan Allah lainnya. Seluruh ciptaan terkecuali manusia diawali dengan pernyataan firman dan diakhiri dengan suatu kekaguman lewat ungkapan semuanya itu baik (Kej 1:1-25). Sementara manusia dirangkai dengan pola istimewa Allah lewat tanah dan dibentuk serta dihembuskan nafas kehidupan dan diakhiri dengan kalimat penyanjungan yang amat luar biasa, sungguh amat baik (Kej 1:31).
Kelebihan manusia selain dalam cara penciptaannya juga di sisi lain diberikan kemampuan berpikir yang tingkatannya jauh dibanding tumbuhan dan hewan yang juga merupakan makhluk hidup. Ketika hewan hanya diberi insting (tumbuhan tampaknya tidak) manusia dilengkapi dengan kapasitas hidup yang lebih komplit. Seperti mengerti salah-benar, kasih, simpati, dan lain sebagainya. Kemampuan berpikir manusialah yang membantu perkembangan pola kerangka hidup manusia menjadi lebih maju dan berkembang.
Ada beberapa tokoh yang dikenal sebagai pemikir di zamannya. Beberapa yang terkenal adalah tiga tokoh yang dikenal dengan sebutan “The Gang of Three” yaitu Socrates, Plato dan Aristoteles. Ketiga orang inilah yang dianggap berperan besar dalam membentuk pola pikir barat (Western Mind). Socrates menekankan pentingnya argumentasi dan pemikiran kritis dalam berpikir. Plato menekankan perlunya untuk selalu mencari “kebenaran” dan mempertahankan pemikiran kritis. Sedangkan Aristoteles, murid dari Plato dan guru dari Alexander Agung, mengembangkan pemikiran ”kategoris” dimana segala sesuatu harus dapat didefinisikan dan dikategorikan.

SOCRATES (469 SM - 399 SM)

Riwayat Hidup
Socrates (Yunani: Σωκράτης, Sǒcratēs) adalah filsuf dari Athena, Yunani dan merupakan salah satu figur paling penting dalam tradisi filosofis Barat. Socrates lahir di Athena, dan merupakan generasi pertama dari tiga ahli filsafat besar Yunani, yaitu Socrates, Plato dan Aristoteles. Socrates adalah guru Plato, dan Plato pada gilirannya juga mengajar Aristoteles. Semasa hidupnya, Socrates tidak pernah meninggalkan karya tulisan apapun sehingga sumber utama mengenai pemikiran Socrates berasal dari tulisan muridnya, Plato.
Socrates diperkirakan lahir dari ayah yang berprofesi sebagai seorang pemahat patung dari batu (stone mason) bernama Sophroniskos. Ibunya bernama Phainarete berprofesi sebagai seorang bidan, dari sinilah Socrates menamakan metodenya berfilsafat dengan metode kebidanan nantinya. Socrates menikah pertama kali dengan Mirtos (Diogenes Laertius, II, 26) dan ketika Socrates sudah cukup berumur, ia menikah yang kedua kalinya dengan Xantippe (Xenophon, Simposium, II, 10). Pada pernikahannya yang kedua dengan Xantippe mereka tidak bahagia tetapi mereka dikaruniai tiga orang anak.
Socrates juga pernah mengikuti semacam wajib militer sebagai hoplites atau prajurit infanteri (pasukan jalan kaki). Ciri khas prajurit ini adalah mereka membiayai seluruh perlengkapannya. Socrates ikut dalam pertempuran di Potidea, Anphipoli dan Delio. Sedangkan terhadap hidup politik, Socrates bersikap amat alergi dan kritis meskipun bukan seorang apolitik.
Socrates memiliki badan yang pendek, sedikit gemuk, mulutnya lebar, hidungnya botok dan matanya terbudur. Tetapi kekurangannya yang terdapat pada tampan dan perawakan tubuhnya diliputi oleh kelebihan budinya seperti jujur, adil dan baik.  Socrates juga bergaul dengan semua orang baik tua maupun muda, kaya dan miskin. Socrates sangat demikian adilnya, sehingga Ia tak pernah berlaku zalim. Ia begitu pandai menguasai dirinya, sehingga Ia tak pernah memuaskan hawa nafsu dengan merugikan kepentingan umum. Dan ia demikian cerdiknya, sehingga ia tak pernah khilaf dalam menimbang baik dan buruk.
Socrates dikenal sebagai seorang yang berpakaian sederhana, tanpa alas kaki dan berkeliling mendatangi masyarakat Athena berdiskusi soal filsafat, mempelajari tingkah laku manusia dari berbagai segi kehidupannya dan ia jarang pergi keluar kota. Socrates kadang-kadang berada di tanah lapang yang di situ terdapat banyak sekali orang berkumpul dan kadang-kadang Ia juga berada di pasar.
 Socrates berdialog dengan setiap orang yang ia temui (ahli politik, pejabat, tukang, pelukis dan lain-lain) dan Socrates melontarkan pertanyaan kepada mereka tentang aktivitas mereka sehairi-hari seperti apa pekerjaan mereka dan sebagainya. Contoh Ia bertanya kepada seorang tukang tentang pertukangannya, dan bertanya kepada seorang pelukis tentang apa yang dikatakan indah.
Dia melakukan ini pada awalnya didasari satu motif religius untuk membenarkan suara gaib yang didengar seorang kawannya dari Oracle Delphi yang mengatakan bahwa tidak ada orang yang lebih bijak dari Socrates. Merasa diri tidak bijak dia berkeliling membuktikan kekeliruan suara tersebut, dia datangi satu demi satu orang-orang yang dianggap bijak oleh masyarakat pada saat itu dan dia mengajak untuk berdiskusi tentang berbagai masalah kebijaksanaan.
Metode berfilsafatnya inilah yang dia sebut sebagai metode kebidanan. Dia memakai analogi seorang bidan yang membantu kelahiran seorang bayi dengan caranya berfilsafat yang membantu lahirnya pengetahuan melalui diskusi panjang dan mendalam. Dia selalu mengejar definisi absolut tentang satu masalah kepada orang-orang yang dianggapnya bijak tersebut meskipun kerap kali orang yang diberi pertanyaan gagal melahirkan definisi tersebut. Pada akhirnya Socrates membenarkan suara gaib tersebut berdasar satu pengertian bahwa dirinya adalah yang paling bijak karena dirinya tahu bahwa dia tidak bijaksana sedangkan mereka yang merasa bijak pada dasarnya adalah tidak bijak karena mereka tidak tahu kalau mereka tidak bijaksana.

Akhir Hidup
Cara berfilsatnya inilah yang memunculkan rasa sakit hati terhadap Socrates karena setelah penyelidikannya itu maka akan tampak bahwa mereka yang dianggap bijak oleh masyarakat ternyata tidak mengetahui apa yang sesungguhnya mereka duga dan ketahui. Kematian Socrates terkait erat dengan tuduhan Anytos seorang tokoh politik yang ikut andil dalam pemulihan sistem pemerintahan domokratis di Athena.
Anytos menuduh Socrates tidak percaya dengan dewa-dewi yang diakui polis Athena dan malahan memperkenalkan doktrin-doktrin religius yang baru. Selain masalah religius, Anytos juga menuduh Socrates telah meracuni kaum muda dengan doktrin-doktrinnya yang sangat menyerang praksis politik dan hidup politis Athena masa itu. Socrates adalah ancaman bagi agama populer warga polis dan bagi stabilitas politik dan pemerintahan Athena.
Rasa sakit hati inilah yang nantinya  berujung pada kematian Sokrates melalui peradilan dengan tuduhan resmi merusak generasi muda, sebuah tuduhan yang sebenarnya dengan gampang dipatahkan melalui pembelaannya sebagaimana tertulis dalam Apologi karya Plato. Socrates pada akhirnya wafat pada usia tujuh puluh tahun dengan cara meminum racun sebagaimana keputusan yang diterimanya dari pengadilan dengan hasil voting 280 mendukung hukuman mati dan 220 menolaknya.
Socrates sebenarnya dapat lari dari penjara, sebagaimana ditulis dalam Krito, dengan bantuan para sahabatnya namun dia menolak atas dasar kepatuhannya pada satu "kontrak" yang telah dia jalani dengan hukum di kota Athena. Keberaniannya dalam menghadapi maut digambarkan dengan indah dalam Phaedo karya Plato. Kematian Socrates dalam ketidakadilan peradilan menjadi salah satu peristiwa peradilan paling bersejarah dalam masyarakat Barat di samping peradilan Yesus Kristus.

Karya Socrates
Socrates adalah seorang filosof dengan coraknya sendiri. Ajaran filosofinya tak pernah dituliskannya, melainkan dilakukannya dengan perbuatan, dengan cara hidup. Socrates tidak pernah menuliskan filosofinya. Jika ditilik benar-benar, ia malah tidak mengajarkan filosofi, melainkan hidup berfilosofi. Bagi dia filosofi bukan isi, bukan hasil, bukan ajaran yang berdasarkan dogma, melainkan fungsi yang hidup. Filosofinya mencari kebenaran. Oleh karena ia mencari kebenaran, ia tidak mengajarkan. Ia bukan ahli pengetahuan, melainkan pemikir, kebenaran itu tetap dan harus dicari.
Pemuda-pemuda Athena pada masa itu dipimpin oleh doktrin relatifisme dari kaum sophis sedangkan Socrates adalah seorang penganut moral yang absolute dan meyakini bahwa menegakkan moral merupakan tugas filosof, yang berdasarkan idea-idea rasional dan keahlian dalam pengetahuan. Bertens (1975; 85-92) menjelaskan ajaran Socrates sebagai berikut ini. Ajaran ini ditujukan untuk menentang ajaran relatifisme sophis. Ia ingin menegakkan sains dengan agama. Socrates memulai filsafatnya dengan bertolak dari pengalaman sehari-hari akan tetapi, ada perbedaan yang sangat penting antara sophis dan Socrates. Socrates tidak menyetujui relafisme kaum sophis. Socrates dalam berfilsafat memiliki pemikiran yang berisikan, manusia harus hidup dengan tujuan kebaikan (eudoimonia) bukan semata-mata mengejar materi, jalan menuju kebaikan (arête) ialah kabajikan atau keutamaan dan juga negara bertanggung jawab dalam membentuk moral rakyatnya.
Tujuan filosofi Socrates ialah mencari kebenaran yang berlaku untuk selama-lamanya. Di sini berlainan pendapatnya dengan guru-guru sofis, yang mengajarkan, bahwa semuanya relatif dan subyektif dan harus dihadapi dengan pendirian yang skeptis. Socrates berpendapat, bahwa dalam mencari kebenaran itu ia tidak memikir sendiri, melainkan setiap kali berdua dengan orang lain, dengan jalan tanya jawab.
Orang yang kedua itu tidak dipandangnya sebagai lawannya, melainkan sebagai kawan yang diajak bersama-sama mencari kebenaran. Kebenaran harus lahir dari jiwa kawan bercakap itu sendiri. Ia tidak mengajarkan, melainkan menolong mengeluarkan apa yang tersimpan di dalam jiwa orang. Sebab itu metodenya disebut maieutik. Socrates mencari kebenaran yang tetap dengan tanya-jawab sana dan sini, yang kemudian dibulatkan dengan pengertian, maka jalan yang ditempuhnya ialah metode induksi dan definisi. Kedua-duanya itu bersangkut-paut. Induksi yang menjadi metode Socrates ialah memperbandingkan secara kritis. Ia tidak berusaha mencapai dengan contoh dan persamaan, dan diuji pula dengan saksi dan lawan saksi.
Dalam menjalani hidupnya sebagai seorang filsuf, Socrates menggunakan metode-metode yang membantunya, beberapa metode tersebut adalah sebagai berikut:

   Dialektika
Metode yang digunakan Socrates biasanya disebut dialektika dari kata kerja Yunani dialegesthai yang berarti bercakap-cakap atau berdialog yang mempunyai peran penting didalamnya. Menurut Socrates dialog adalah “wahana” berfilsafat. Jadi dialog itu “membuka” pikiran, “mencairkan” kebekuan pikiran, “melahirkan” pikiran dan “menuntut” perjalanan pikiran.
Dalam metode ini Socrates mendatangi bermacam-macam orang (ahli politik, pejabat, dan lain-lainnya). Kepada mereka dia mengemukakan pertanyaan-pertanyaan mengenai pekerjaan mereka, hidup mereka sehari-hari dan lain-lainnya. Kemudian jawaban mereka pertama-tama dianalisa dan disimpulkan dalam suatu hipotesa. Hipotesa ini dikemukakan lagi kepada mereka dan dianalisa lagi. Demikian seterusnya sehingga ia mencapai tujuannya, yaitu membuka kedok segala peraturan hukum yang semu, sehingga tampak sifatnya yang semu, dan mengajak orang melacak atau menelusuri sumber-sumber hukum yang sejati. Supaya tujuan itu tercapai diperlukan suatu pembentukan yang murni.

Maieutika
Maieutika sering juga disebut dengan istilah metode kebidanan, karena dengan cara ini Socrates bertindak seperti seorang bidan yang menolong kelahiran seorang bayi. Maksudnya adalah Socrates menggunakan metode ini untuk membantu orang-orang mengetahui kebenaran dan jati dirinya.
Dengan cara bekerja yang demikian, Socrates menemukan suatu cara berfikir yang disebut induksi, yaitu menyimpulkan pengetahuan yang sifatnya umum dengan berpangkal dari banyak pengetahuan tentang hal yang khusus. Umpamanya, banyak orang yang menganggap keahliannya (sebagai tukang besi, tukang septum dll) sebagai keutamaannya. Seorang tukang besi berpendapat bahwa keutamaannya ialah jikalau ia membuat alat-alat dari besi yang baik.
Untuk mengetahui apakah “keutamaan” pada umumnya, semua sifat khusus keutamaan-keutamaan yang bermacam-macam itu harus disingkirkan dan tinggal yang umum. Demikian dengan induksi akan ditemukan apa yang disebut definisi umum. Socrates adalah orang yang menemukan, dan ternyata penting sekali artinya bagi ilmu pengetahuan.

Ironi
Kata ironi berasal dari bahasa Yunani yang bermakna bersikap pura-pura, cara seseorang berbicara, pura-pura menyetujui apa yang dikatakan oleh lawan bicaranya, tetapi dengan senyuman, mimik dan sebagainya menyangkal pendapat orang itu. Oleh Socrates dipergunakan untuk membimbing lawan bicaranya kepada kebenaran.
Socrates seringkali berpura-pura bertanya dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang sengaja dimaksudkan untuk membingungkan orang-orang terutama para kaum sofis. Karena jawaban-jawaban atas pertanyaan itu menjadi saling bertentangan, sehingga para penjawab ditertawakan orang banyak. Segi positif dari metode ironi ini terletak dalam usahanya untuk mengupas kebenaran dari kulit “pengetahuan semu” orang-orang  tersebut.

Daftar Pustaka

-          Hatta, Mohammad.1986.ALAM PIKIRAN YUNANI,Jakarta:Timtamas
-          Dick, Hartoko.2002.Kamus Populer Filsafat.Jakarta:PT.Rajagrafindo Persada
-          T.Z.Lavine.2002.Petualangan Filsafat dari Socrates ke Sartre.Yogyakarta:Jendela
-          Drs. Achmad Charris Zubair. 1995.Kuliah Etika.Jakarta:PT.Rajagrafindo Persada
-          Prof. Dr. Ahmad Tafsir.2010.Filsasfat Umum, Akal dan Hati Sejak Thales sampai   Capra.Bandung: PT. Remaja Rosdakarya
-          Maksum, Ali.2011.Pengantar Filsafat  dari Masa Klasik Hingga Post Modernisme.Yogyakarta:Ar.Ruzz Media
-          Bambang Q. Anees & Rudia Juli A. Hambali.2003.Filsafat Untuk Umum.Jakarta Timur:Kencana



PLATO (427-347 SM)

Riwayat Hidup
Plato dalam bahasa Yunani: Πλάτων (plateau) juga dapat berarti dataran tinggi, lahir sekitar 427 SM dan meninggal sekitar 347 SM adalah seorang filsuf dan matematikawan Yunani, penulis philosophical dialogues dan pendiri dari Akademi Platonik di Athena, sekolah tingkat tinggi pertama di dunia barat.  Ia adalah murid Socrates. Plato lahir di Athena dalam keluarga ningrat dan menerima pendidikan yang biasa didapat anak muda Yunani yang kaya. Di masa remaja dia berkenalan dengan filosof kesohor Socrates yang jadi guru sekaligus sahabatnya. Karena kedekatan inilah maka kematian gurunya membuat Plato enggan bergelut di dunia politik, padahal sebagai keturunan aristokrat bukanlah hal yang sulit untuk bergelut di dunia politik. Plato lebih memilih jalan hidup layaknya sang guru, yakni menjadi Filosof.
Pemikiran Plato pun banyak dipengaruhi oleh Socrates dan oleh para pengikut Pythagoras. Plato adalah guru dari Aristoteles. Karyanya yang paling terkenal ialah Republik (dalam bahasa Yunani Πολιτεία atau Politeia, "negeri") yang di dalamnya berisi uraian garis besar pandangannya pada keadaan "ideal”. Dia juga menulis 'Hukum' dan banyak dialog di mana Socrates adalah peserta utama. Salah satu perumpamaan Plato yang termasyhur adalah perumpaan tentang orang di gua.
Plato menulis tak kurang dari tiga puluh enam buku, kebanyakan menyangkut masalah politik dan etika selain metafisika dan teologi, karya-karya Plato yang paling tersohor adalah Republica (Republik), Dialogue (Dialog), Statesman (Negarawan), dan Apologia (Pembelaan).
Plato juga berbicara mengenai keadilan, dalam karyanya Politea (republik) yang arti sebenarnya adalah konstitusi dalam pengertian suatu jalan/cara bagi individu-individu dalam berhubungan dengan sesamanya dalam pergaulan hidup masyarakat. Dalam Politea juga bercerita “tentang keadilan”, keadilan merupakan tema pokok dalam buku tersebut. Keadilan berarti seseorang membatasi dirinya pada kerja dan tempat dalam hidup yang sesuai dengan panggilan kecakapan dan kesanggupannya.
Sekitar tahun 387 SM Plato mendirikan perguruan di Athena, sebuah akademi yang berjalan lebih dari 900 tahun. Akademi yang dia beri nama Academica itu tidak sekedar untuk pengembangan ilmu pengetahuan, lebih dari itu diharapkan menjadi pabrik pembentukan dan penempa orang-orang yang dapat membawa perubahan bagi Yunani. Lembaga pendidikan ini diharapkan dapat membentuk manusia yang berpengetahuan yang didapatkan dengan cara apapun dan dilakukan atas nama negara dalam rangka mencapai kebajikan. Di lembaga pendidikan ini pula yang mempertemukan Plato dengan muridnya yang kelak menjadi Filosof layaknya dia, yakni Aristostoteles. Filosof Yunani kuno, Plato tak pelak lagi menjadi cikal bakal filosof politik Barat dan sekaligus dedengkot pemikiran etika dan metafisika mereka. Pendapat-pendapatnya di bidang ini sudah terbaca luas lebih dari 2300 tahun. Tak pelak lagi, Plato berkedudukan bagai bapak moyangnya pemikir Barat.

Karya Plato
Ajaran Plato sangat berpengaruh terhadap kepercayaan religius jutaan orang, termasuk orang yang mengaku Kristen, yang kebanyakan dengan keliru mengira bahwa berbagai kepercayaan ini berdasarkan Alkitab. Ajaran utama Plato adalah konsep bahwa manusia punya jiwa yang tidak dapat mati meskipun tubuh jasmani mati. ”Jiwa yang tidak dapat mati adalah salah satu topik kesukaan Plato.”—Body and Soul in Ancient Philosophy. Plato sangat berminat akan kehidupan setelah kematian. Ia begitu yakin bahwa ”jiwa tetap hidup walau wujudnya sekarang mati, untuk mendapat upah atau hukuman yang pantas di akhirat, berdasarkan cara hidup seseorang selama di bumi”.
Selama sembilan abad Akademi Plato berdiri, dari 387 SM sampai 529 M, pengaruhnya sangat besar. Gagasan Plato menjadi populer di negeri-negeri yang dikuasai Yunani dan Romawi. Filsuf Yahudi Filo dari Aleksandria menerima ajaran Plato, sama seperti banyak pemimpin agama dalam Susunan Kristen. Hasilnya, konsep filosofis kafir, termasuk jiwa yang tidak dapat mati, menyusup ke dalam ajaran Yudaisme dan Kekristenan.
Ciri-ciri karya Plato yang dikenal luas, bersifat Sokratik, dalam karya-karya yang ditulis pada masa mudanya, Plato selalu menampilkan kepribadian dan karangan Sokrates sebagai topik utama karangannya. Kedua adalah berbentuk dialog, hampir semua karya Plato ditulis dalam nada dialog. Dalam Surat VII, Plato berpendapat bahwa pena dan tinta membekukan pemikiran sejati yang ditulis dalam huruf-huruf yang membisu. Oleh karena itu, menurutnya, jika pemikiran itu perlu dituliskan, maka yang paling cocok adalah tulisan yang berbentuk dialog. Dan yang ketiga, Adanya mite-mite, Plato menggunakan mite-mite untuk menjelaskan ajarannya yang abstrak dan adiduniawi. Verhaak menggolongkan tulisan Plato ke dalam karya sastra bukan ke dalam karya ilmiah yang sistematis karena dua ciri yang terakhir, yakni dalam tulisannya terkandung mite-mite dan berbentuk dialog.
Sumbangan pikiran karya Plato yang luar biasa bagi dunia dituangkan dalam beberapa gagasan.

Idea-idea
Sumbangsih Plato yang terpenting adalah pandangannya mengenai idea. Pandangan Plato terhadap idea-idea dipengaruhi oleh pandangan Sokrates tentang definisi. Idea yang dimaksud oleh Plato bukanlah ide yang dimaksud oleh orang modern. Orang-orang modern berpendapat ide adalah gagasan atau tanggapan yang ada di dalam pemikiran saja. Menurut Plato idea tidak diciptakan oleh pemikiran manusia. Idea tidak tergantung pada pemikiran manusia, melainkan pikiran manusia yang tergantung pada idea. Idea adalah citra pokok dan perdana dari realitas, non-material, abadi, dan tidak berubah. Idea sudah ada dan berdiri sendiri di luar pemikiran kita. Idea-idea ini saling berkaitan satu dengan yang lainnya. Misalnya, idea tentang dua buah lukisan tidak dapat terlepas dari idea dua, idea dua itu sendiri tidak dapat terpisah dengan idea genap. Namun, pada akhirnya terdapat puncak yang paling tinggi di antara hubungan idea-idea tersebut. Puncak inilah yang disebut idea yang “indah”. Idea ini melampaui segala idea yang ada.
Dunia ini menurutnya tiada lain hanyalah refleksi atau bayangan dari dunia ideal. Di dunia ideal semuanya sangat sempurna. Hal ini tidak hanya merujuk kepada barang-barang kasar yang bisa dipegang saja, tetapi juga mengenai konsep-konsep pikiran, hasil buah intelektual.
Berlakunya idea itu tidak bergantung kepada pandangan dan pendapat orang banyak. Ia timbul semata-mata karena kecerdasan berfikir.
Pokok tinjauan filosofi plato ialah mencari pengetahuan tentang pengetahuan. Ia bertolak dari ajaran gurunya sokrates yang mengatakan “budi ialah tahu”. Budi yang berdasarkan pengetahuan menghendaki suatu ajaran tentang pengetahuan sebagai dasar filosofi. Pertentangan antara pikiran dan pandangan menjadi ukuran bagi plato. Pengertian yang mengandung didalamnya pengetahuan dan budi, yang dicarinya bersama-sama dengan sokrates, pada hakekat dan asalnya berlainan sama sekali dari pemandangan.

Dunia Indrawi
Dunia indrawi adalah dunia hitam yang mencakup benda-benda jasmani yang konkret, yang dapat dirasakan oleh  indera kita. Dunia indrawi ini tiada lain hanyalah refleksi atau bayangan daripada dunia ideal. Selalu terjadi perubahan dalam dunia indrawi ini. Segala sesuatu yang terdapat dalam dunia jasmani ini fana, dapat rusak, dan dapat mati.
Pemahaman Plato tentang keindahan yang dipengaruhi pemahamannya tentang dunia indrawi, yang terdapat dalam Philebus. Plato berpendapat bahwa keindahan yang sesungguhnya terletak pada dunia idea berpendapat bahwa kesederhanaan adalah ciri khas dari keindahan, baik dalam alam semesta maupun dalam karya seni. Namun, tetap saja, keindahan yang ada di dalam alam semesta ini hanyalah keindahan semu dan merupakan keindahan pada tingkatan yang lebih rendah.

Negara Ideal
Nilai-nilai atau pandangan Plato pada dasarnya adalah pandangan tentang kebajikan  sebagai dasar negara ideal, ajaran Socrates kebajikan pengetahuan adalah diterima secara taken for granted. Ciri dari negara yang bijak itu adalah dipimpin oleh rezim aristokrat. Yang dimaksud aristokrat di sini bukannya aristokrat yang diukur dari takaran kualitas, yaitu pemerintah yang digerakkan oleh putera terbaik dan terbijak dalam negeri itu. Orang-orang ini mesti dipilih bukan lewat pungutan suara penduduk melainkan lewat proses keputusan bersama. Orang-orang yang sudah jadi anggota penguasa atau disebut “guardian” harus menambah orang-orang yang sederajat semata-mata atas dasar pertimbangan kualitas.
Menurut Plato negara ideal menganut prinsip yang mementingkan kebajikan. Kebajikan menurut Plato adalah pengetahuan. Apapun yang dilakukan atas nama Negara harus dengan tujuan untuk mencapai kebajikan, atas dasar itulah kemudian Plato memandang perlunya kehidupan bernegara. Tidak ada cara lain menurut Plato untuk membanguan pengetahuan kecuali dengan lembaga-lembaga pendidikan,  inilah yang kemudian memotivasi Plato untuk mendirikan sekolah dan akademi pengetahuan.
Negara ideal menurut Plato juga didasarkan pada prinsip-prinsip larangan atas kepemilikan pribadi, baik dalam bentuk uang atau harta, keluarga, anak dan istri inilah yang disebut nihilism. Dengan adanya hak atas kepemilikan menurut filsuf ini akan tercipta kecemburuan dan kesenjangan sosial yang menyebabkan semua orang untuk menumpuk kekayaannya, yang mengakibatkan kompetisi yang tidak sehat. Anak yang baru lahir tidak boleh diasuh oleh ibu yang melahirkan tapi itu dipelihara oleh Negara, sehingga seorang anak tidak tahu ibu dan bapaknya, diharapkan akan menjadi manusia yang unggul, yang tidak terikat oleh ikatan keluarga dan hanya memiliki loyalitas mati terhadap negara.
Dari Plato ini, pemikiran demokrasi berawal. Dalam perkembangannya kemudian memunculkan berbagai konsep tentang negara dan demokrasi. Hanya saja, seluruh konsep itu hancur dalam perang Philopo antara Sparta dan Athena. Hancurnya Athena ikut menenggelamkan Yunani yang pada abad-abad berikutnya munculan kekuasaan Romawi. Yang menarik, Yunani tidak mengenal individualitas dalam demokrasi. Hak-hak individual tidak dikenal dalam demokrasi Athena. Masyarakatnya adalah masyatakat kolektif yang disebut community yang maknanya sama dengan Polis. Jadi Polis itu gabungan negara yang di dalamnya ada pemerintahan (Condominium), ada banyak polis termasuk di dalamnya Athena dan Sparta yang kemudian mengembangkan konsep militerisme.

Etika
Plato adalah termasuk tokoh filsafat yang mengutamakan etika. Dia merumuskan bahwa tujuan hidup manusia adalah mencapai kesenangan dan kebahagiaan. Sehingga untuk mendapatkan kesenangan dan kebahagiaan manusia harus berupaya melalui etika. Namun demikian kesenangan hidup yang dimaksud Plato adalah bukan kesenangan dengan memuaskan hawa nafsu selama hidup di dunia indrawi. Pada tataran ini Plato konsisten dengan ajarannya tentang dua dunia, yaitu dunia indrawi dan dunia ide, dunia yang sebenarnya. Sehinggga kesenangan hidup harus diihat dari dua dunia tersebut.
Ajaran Plato tentang etika kurang lebih mengatakan bahwa manusia dalam hidupnya mempunyai tujuan hidup yang baik, dan hidup yang baik ini dapat dicapai dalam polis. Ia tetap memihak pada cita-cita Yunani Kuno yaitu hidup sebagai manusia serentak juga berarti hidup dalam polis, ia menolak bahwa negara hanya berdasarkan nomos/adat kebiasaan saja dan bukan physis/kodrat. Plato tidak pernah ragu dalam keyakinannya bahwa manusia menurut kodratnya merupakan mahluk sosial, dengan demikian manusia menurut kodratnya hidup dalam polis atau negara.


ARISTOTELES (384-322 SM)

Riwayat Hidup
Aristoteles (bahasa Yunani: ‘Aριστοτέλης Aristotélēs), adalah seorang filsuf Yunani, murid dari Plato dan guru dari Alexander yang Agung. Ia menulis tentang berbagai subyek yang berbeda, termasuk fisika, metafisika, puisi, logika, retorika, politik, pemerintahan, etnis, biologi dan zoologi. Pada tahun 384 SM Aristoteles lahir di daerah Stagira (Stragirite) di belahan Utara Yunani. Ayahnya, Nikomakus adalah seorang tabib (dokter) istana Raja Macedonia. Aristoteles tatkala berusia kira-kira tujuh belas tahun pergi ke kota Athena untuk menuntut ilmu dan pada tahun 368 SM menjadi anggota di Akademi Plato. Selama dua puluh tahun, yaitu hingga wafatnya Plato, pada tahun 348 SM Aristoteles menetap dan berguru pada Plato di tempat itu. Aristoteles adalah murid terbesar dan terunggul Plato. Pasca kematian gurunya, Aristoteles meninggalkan Athena dan mendirikan cabang akademi di kota Assus. Di tempat itu, ia berkenalan dengan Hermeas salah seorang bijak bestari dan setelah beberapa lama, Aristoteles menikah dengan keponakannya.
Pada tahun 343 SM, Philip Macedonia mengundang Aristoteles untuk mengajar dan mendidik putranya Iskandar yang pada waktu itu masih berusia tiga belas tahun. Aristoteles menerima undangan dan tawaran ini. Aristoteles mengajarkan ilmu dan etika kepada Alexander.Dengan menerima tawaran pekerjaan ini, Aristoteles memainkan peran signifikan dalam sejarah. Karena tidak lama berselang, pada tahun 336 SM, Alexander naik singgasana dan banyak melakukan penaklukan di pelbagai tempat. Pada waktu itu, Aristoteles meninggalkan Macedonia dan kembali ke Athena. Di Athena, Aristoteles mendirikan universitas baru mengikut pada model akademi yang didirikan gurunya.  Aristoteles menamai universitas tersebut sebagai “Lyceum” yang diinsiprasi oleh nama tempat tersebut.
Lyceum adalah sebuah universitas keilmuan yang dilengkapi dengan persputakaan lengkap dan dosen-dosen yang mengajar secara berkesinambungan. Di Lyceum banyak pemikir dan periset yang mengalami kemajuan pesat dalam telaah-telaah mereka. Aristoteles sendiri mengajar di universitas ini dan melontarkan gagasan-gagasan dan pandangan-pandangannya. Kebanyakan karya Aristoteles yang tersisa adalah catatan-catatan yang disimpulkan oleh para muridnya dari pelajaran-pelajaran yang disampaikan. Ia memiliki kebiasaan berjalan ketika mengajar dan atas dasar ini filasafat yang dikembangkan oleh Aristoteles disebut sebagai filsafat peripatetik (massyah) yaitu sebuah aliran filsafat yang dikenal banyak berjalan.
Aristoteles termasuk filosof terbesar dunia yang menyuguhkan banyak masalah penting dan tema-tema utama pemikiran dan filsafat. Pandangan-pandangan filsafatnya sangat luas dan tiada bandingnya. Semenjak Fisika, Logika hingga Etika, Astronomi. Pandangan-pandangannya terkhusus masalah Metafisika dan Logika yang mendominasi school of thought (aliran pemikiran) Eropa dan gereja-gereja di seantero abad pertengahan. Dan setelah itu pikiran-pikirannya yang menjadi cikal-bakal dan embrio lahirnya renaissance dalam bidang sains dan kebudayaan.

Akhir Hidup
Saat Alexander (Murid Aristoteles) berkuasa di tahun 336 SM, Aristoteles kembali ke Athena. Dengan dukungan dan bantuan dari Alexander, ia kemudian mendirikan akademinya sendiri yang diberi nama Lyceum, yang dipimpinnya sampai tahun 323 SM. Perubahan politik seiring jatuhnya Alexander menjadikan dirinya harus kembali kabur dari Athena guna menghindari nasib naas sebagaimana dulu dialami Socrates.
Setelah Alexander wafat pada tahun 323 SM dan lantaran pandangan negatif masyarakat atas Alexander di Yunani dan khususnya di Athena, Aristoteles dituding mempengaruhi muridnya tersebut untuk melakukan invasi dan penyerangan. Atas alasan ini, Aristoteles meninggalkan Athena dan pergi ke Chalkis yang terletak di Euboea yang merupakan kota kelahiran ibunya. Dan beberapa lama setelah itu, pada tahun 322 SM Aristoteles wafat lantaran penyakit yang dideritanya.

Karya Aristoteles
Meskipun sebagian besar ilmu pengetahuan yang dikembangkannya terasa lebih merupakan penjelasan dari hal-hal yang masuk akal (common-sense explanation), banyak teori-teorinya yang bertahan bahkan hampir selama dua ribu tahun lamanya. Hal ini terjadi karena teori-teori tersebut dianggap masuk akal dan sesuai dengan pemikiran masyarakat pada umumnya, meskipun kemudian ternyata bahwa teori-teori tersebut salah total karena didasarkan pada asumsi-asumsi yang keliru.
Dapat dikatakan bahwa pemikiran Aristoteles sangat berpengaruh pada pemikiran Barat dan pemikiran keagamaan lain pada umumnya. Penyelarasan pemikiran Aristoteles dengan teologi Kristiani dilakukan oleh Santo Thomas Aquinas di abad ke-13, dengan teologi Yahudi oleh Maimonides (1135 – 1204), dan dengan teologi Islam oleh Ibnu Rusyid (1126 – 1198). Bagi manusia abad pertengahan, Aristoteles tidak saja dianggap sebagai sumber yang otoritatif terhadap logika dan metafisika, melainkan juga dianggap sebagai sumber utama dari ilmu pengetahuan, atau "the master of those who know", sebagaimana yang kemudian dikatakan oleh Dante Alighieri.
Filsafat Aristoteles berkembang dalam tiga tahapan yang pertama ketika dia masih belajar di Akademi Plato ketika gagasannya masih dekat dengan gurunya tersebut, kemudian ketika dia mengungsi, dan terakhir pada waktu ia memimpin Lyceum mencakup enam karya tulisnya yang membahas masalah logika, yang dianggap sebagai karya-karyanya yang paling penting, selain kontribusinya di bidang Metafisika, Fisika, Etika, Politik, Ilmu Kedokteran, Ilmu Alam dan karya seni.
Di bidang ilmu alam, ia merupakan orang pertama yang mengumpulkan dan mengklasifikasikan spesies-spesies biologi secara sistematis. Karyanya ini menggambarkan kecenderungannya akan analisis kritis, dan pencarian terhadap hukum alam dan keseimbangan pada alam. Berlawanan dengan Plato yang menyatakan teori tentang bentuk-bentuk ideal benda, Aristoteles menjelaskan bahwa materi tidak mungkin tanpa bentuk karena ia ada (eksis). Pemikiran lainnya adalah tentang gerak dimana dikatakan semua benda bergerak menuju satu tujuan, sebuah pendapat yang dikatakan bercorak teleologis. Karena benda tidak dapat bergerak dengan sendirinya maka harus ada penggerak dimana penggerak itu harus mempunyai penggerak lainnya hingga tiba pada penggerak pertama yang tak bergerak yang kemudian disebut dengan theos, yaitu yang dalam pengertian Bahasa Yunani sekarang dianggap berarti Tuhan. Logika Aristoteles adalah suatu sistem berpikir deduktif (deductive reasoning), yang bahkan sampai saat ini masih dianggap sebagai dasar dari setiap pelajaran tentang logika formal. Meskipun demikian, dalam penelitian ilmiahnya ia menyadari pula pentingnya observasi, eksperimen dan berpikir induktif (inductive thinking).
Hal lain dalam kerangka berpikir yang menjadi sumbangan penting Aristoteles adalah silogisme yang dapat digunakan dalam menarik kesimpulan yang baru yang tepat dari dua kebenaran yang telah ada. Misalkan ada dua pernyataan (premis).
  • Setiap manusia pasti akan mati (premis mayor).
  • Sokrates adalah manusia (premis minor)
  • maka dapat ditarik kesimpulan bahwa Sokrates pasti akan mati
Di bidang politik, Aristoteles percaya bahwa bentuk politik yang ideal adalah gabungan dari bentuk demokrasi dan monarki. Karena luasnya lingkup karya-karya dari Aristoteles, maka dapatlah ia dianggap berkontribusi dengan skala ensiklopedis, dimana kontribusinya melingkupi bidang-bidang yang sangat beragam sekali seperti Fisika, Astronomi, Biologi, Psikologi, Metafisika (misalnya studi tentang prisip-prinsip awal mula dan ide-ide dasar tentang alam), logika formal, etika, politik, dan bahkan teori retorika dan puisi.
Di bidang seni, Aristoteles memuat pandangannya tentang keindahan dalam buku Poetike. Aristoteles sangat menekankan empirisme untuk menekankan pengetahuan. Ia mengatakan bahwa pengetahuan dibangun atas dasar pengamatan dan penglihatan. Menurut Aristoteles keindahan menyangkut keseimbangan ukuran yakni ukuran material.  Menurut Aristoteles sebuah karya seni adalah sebuah perwujudan artistik yang merupakan hasil chatarsis disertai dengan estetika. Chatarsis adalah pengungkapan kumpulan perasaan yang dicurahkan ke luar. Kumpulan perasaan itu disertai dorongan normatif.  Dorongan normatif yang dimaksud adalah dorongan yang akhirnya memberi wujud khusus pada perasaan tersebut.  Wujud itu ditiru dari apa yang ada di dalam kenyataan. Aristoteles juga mendefinisikan pengertian sejarah yaitu Sejarah merupakan satu sistem yang meneliti suatu kejadian sejak awal dan tersusun dalam bentuk kronologi. Pada masa yang sama, menurut beliau juga Sejarah adalah peristiwa-peristiwa masa lalu yang mempunyai catatan, rekod-rekod atau bukti-bukti yang konkrit.


Kepustakaan
·          (Inggris) Buckingham, Will; Douglas Burnham; Peter J. King; Clive Hill; Marcus Weeks; John Marenbon (2010). The Philosophy Book. DK Publishing. ISBN 978-0756668617.
·         Mudji Sutrisno dan Christ Verhaak, Estetika Filsafat Keindahan (Yogyakarta: Kanisius, 1993.
·         Fuad Hasan, Pengantar Filsafat Barat, (Jakarta: Pustaka Jaya, 1996.
·         Ferguson, Wallace K., and Geoffrey Bruun. A Survey of European Civilization (4th Ed), pg. 39. Houghton Mifflin Company / Boston, 1969, USA.
·         Yenne, Bill. 100 Pria Pengukir Sejarah Dunia (hal 38-39). Alih bahasa: Didik Djunaedi. PT. Pustaka Delapratasa, 2002, Jakarta.

Tidak ada komentar: